KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Program rumah panggung yang dicanangkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk warga terdampak banjir di Desa Karangligar, Kabupaten Karawang, justru memunculkan persoalan baru. Pasalnya, rumah panggung yang digadang-gadang menjadi solusi banjir itu nyatanya masih ikut terendam saat debit air meningkat.
Warga RT 05 RW 02 Desa Karangligar, Kokom, mengungkapkan bahwa genangan air di sekitar rumah panggung hingga kini belum sepenuhnya surut. Bahkan, saat banjir berada di puncaknya, air sempat masuk ke dalam rumah panggung dengan ketinggian mencapai setengah meter.
“Sekarang memang sudah agak surut dari lantai rumah panggung, tapi kemarin air sempat masuk ke dalam, kurang lebih setengah meter,” ujar Kokom saat ditemui di lokasi banjir.
Saat ini, baru sekitar 24 kepala keluarga yang menempati rumah panggung di wilayah tersebut. Menurut Kokom, keberadaan rumah panggung memang membantu, namun tidak sepenuhnya aman ketika banjir datang secara tiba-tiba dan air kembali meninggi.
Ia menuturkan, banjir sempat naik sangat cepat pada hari sebelumnya sekitar pukul 17.00 WIB. Bahkan, sebagian warga sudah memilih mengungsi sejak siang hari karena khawatir air kembali meluap.
“Kemarin naiknya cepat banget. Jam 5 sore sudah deras, warga sudah mulai mengungsi dari jam 12 siang,” katanya.
Akibat banjir tersebut, sejumlah barang elektronik milik warga dilaporkan rusak terendam air. Hingga kini, sebagian warga masih merasa waswas untuk kembali ke rumah dan memeriksa kondisi harta benda mereka.
Selain kerusakan material, warga juga masih membutuhkan bantuan tambahan, terutama perlengkapan tidur dan pasokan air bersih. Meski kebutuhan makanan dinilai sudah relatif terpenuhi, keterbatasan fasilitas sanitasi masih menjadi persoalan serius.
“Kalau makanan alhamdulillah ada setiap hari. Tapi selimut belum ada, air bersih juga masih kurang. Untuk mandi harus numpang ke kampung sebelah,” ujarnya.
Warga menilai, persoalan utama banjir di Karangligar bukan semata soal tempat tinggal, melainkan belum adanya penanganan sungai secara menyeluruh. Mereka pun mendesak pemerintah agar segera melakukan normalisasi sungai, khususnya di kawasan belakang Resinda yang merupakan pertemuan Sungai Citarum dan Cibeet (CBR).
“Kami mohon normalisasi sungai segera dilakukan. Kalau belum dinormalisasi, air bisa stuck. Bisa sampai seminggu lebih kami mengungsi seperti ini,” ucap Kokom.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan rumah panggung tanpa diiringi penanganan hulu dan hilir sungai justru berpotensi menjadi solusi setengah jalan. Warga Karangligar berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan hunian, tetapi juga menyelesaikan akar persoalan banjir yang selama ini terus berulang.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
